INFO UNTUK SANTRI JAMAAH WIHDATUL GHINA (WG)
Setelah Syawal berlalu, saatnya kita memulai Praktek Ilmu
"Cipta Keleresan Sejati". Sejatinya keleresan adalah
tidak keleresan. Maksudnya, "Sebenar-benarnya kebenaran atau kebetulan adalah
bukan kebenaran atau kebetulan" Kita
siapkan saja Jiwa Raga secara full untuk menciptakan “kebetulan” yang sesungguhnya. Artinya mewujudkan sesuatu
yang belum wujud sehingga benar-benar terwujud saat itu juga.
Langkah awal sebagai tahap latihan, kita menciptakan kebetulan dari yang
kecil-kecil dulu. Seperti apa sih contohnya? Nii... saat masa-masa sempit, kita butuh duit,
e... Ndilalah dapat duit entah dari mana, ndilalah dapat tempat / job/pekerjaan,
ndilalah... ndilalah... dan ndilalah.... Ini adalah Basicnya Ilmu Wihdatil Ghina
(WG).
Monggo... bagi santri yang ikut jamaah WG, siap-siap perbaikan gizi dengan
menu-menu yang murah dan meriah. tidak perlu beli yang mahal-mahal Oke.
Ini ada Contoh kecil praktek ilmu keleresan sejati
Waktu itu aku masih SMA... Praktekku nggak main-main. Apa itu? aku ingin mengimami tahlil
ditempat umum bersama para ulama’-ulama’, Gila bukan? Saat itu sehabis Dzuhur
ada tamu yang mencari abah untuk acara Tahlilan di tempatnya Mbah Shodiqun. (Tokoh di desa kami). Mmmmm.... Tahu begitu saya langsung ke kamar dan Praktek Ilmu Keleresan Agung.
Kira-kira saru jam aku ritual. Tibalah waktu Maghrib, saat hajatan mau
dimulai. Lha dalaaaa. Ndilalah abah disuruh untuk Khutbah Nikah, secara mendadak.... dan abah bilang padaku, “Thole... Ntar kamu yang berangkat tahlilan di tempat Mbah Shodiqun ya”, (dengan bahasa jawa. red). “Oke....” Jawabku...
Aku pun berangkat ke lokasi tahlilan. Hatiku berdebar-debar karena sebentar
lagi akan ada Macannya desa Pengkol, yakni Mbah Jad. Pakpuh saya sendiri,
dedengkotnya desa Pengkol. Tapi hati ini saya kuat-kuatkan.
Hadehhhh tambah hati gak karu-karuan begitu Mbah Jad dan Rombongan santrinya sudah
pada datang..
Tahlilpun dimulai dan Mbah Jad membuka
acaranya, dan beliau memohon maaf karena tidak bisa ngimami biar di imami oleh santrinya....
Beliau
mendadak harus ke Lirboyo....
Lha... Saat mau ngomong sama
santrinya, ehhh tiba-tiba beliau meliht ke arah pojok, dimana aku duduk disana. dan
beliau bilang... “Lhoh... Wi guse to?” “Nggeh...” Jawabku.... “Yo wis
Gus, kamu saja yang ngimami tahlilan”, kata Mbah Jad lagi. “Injih....” jawabku.
Hmmmmm.... Ini adalah efek tugas sekolah MAN Nglawak Kertosono, yang
mewajibkan siswanya untuk Hafalan tahlil. Damn kala itu aku baru hafal tahlil. Karena
merasa sudah
hafal betul tahlilan itu, tiba-tiba terbesit ingin ngimami tahlilan. Jiachhh... Hooooo ternyata
sukses.... Lama-lama metode ilmu cipta keleresan ini saya ganti ke ilmu “Ndilalah
dapat uang”
Maka jadilah. Dan sukseslah.... Sejak saat
itu Ilmu Keleresan Agung ini aku jadikan Statement dalam Sosro Jalmo bahwa: "Tak ada Cipta Yang Tak Terwujud''

0 Response to "ILMU KELERESAN SEJATI UNTUK MEWUJUDKAN SESUATU YANG BELUM TERWUJUD "
Post a Comment