SULUK KARAHAYAON 2
NGUPOKORO JIWO ROGO. SUPOYO SLAMET LAN BEKJO
LAHIR BATHIN, NDUNYO AKHEROT. TELUNG LAKON KUDU DI TINDAKNO.
ONGKO SIJI, KUDU SEBO MARANG GUSTI
KAPING PINDO, KUDU MANAH MONGSO WENGI
KAPING TELU TANSAH ELING, MENYANG GUSTI LAN NJENG NABI
UGO GURU LAN WONG TUWO, KANG DADI ONDHONE SURGO
.
Agar kualitas diri terjaga, 8 (delapan) Galih Wiwara bisa berproduksi secara proposional dan sempurn maka sedikitnya 3 (tiga) hal diatas adalah menu wajib kita.
Nomor satu sudah jelas, sebagai seorang hamba harus selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat menjalankan sholat fardlu tepa pada waktunya. Dan bukan hanya itu, sholat kita harus beda seperti umumnya orang sholat. Sholat adalah perjuangan yang harus diperjuangkan, bukan hanya asal jengkang-jengking, jenthat-jenthit saja, tapi seluruh ilmu yang kita punya kita kerahkan semuanya. Samkarya Macan Sabantala harus berpadu dalam setiap gerakan dan nafas kita. Maka, saat sholat sudah tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya kita sebagai hamba dan Allah sebagai Gusti Sesembahan kita.
Inilah hakikat Manunggaling Kawulo lan Gusti yang sempurna. Lantas bagaimana mungkin seseorang hamba bisa Manunggaling Kawulo lan Gusti tanpa Manunggaling Jagad?
Jagad itu bukan bayangan seperti yang dikatakan oleh kebanyakan para ahli kebatinan dan para Sufi yang mendalami ilmu tasawuf. Kita ini punya dasar yang paling kuat, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits, disana diterangkan bahwa jagad itu termasuk ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ke-Maha-Besar-an Allah).
kita tidak perlu ikut-ikutan dengan pendapatnya ahli Sufi yang mengatakan bahwa dunia ini adalah bayang-bayang. Mungkin mereka telah lupa, bahwa kalimat itu bukan perkataan orang Islam, tapi itu merupakan unen-unen / perkataannya orang Yunani Kuno, yakni Plato dan Neo Platoisme-lah gerombolan pertama yang mengatakan bahwa dunia itu “maya” dunia itu hanya bayangan.
Sedangkan kita dari awal kemunculan kita tahun 80an, kita mengatakan bahwa dunia adalah nyata dan kita bersatu dengannya yang kemudian kita disebut sebagai Wihdatul Alam (WA). Iya...... Kita bersatu padu bersama di tengah-tengah lautan maha Energi Ilahiy, sehingga kita berada pada kondisi universal tunggal yang non dualistik. Nah... pada saat sudah seperti ini, maka baru kita bisa mendekat dengan Yang Maha Energi, Sang Khaliq, Sang Kuasa Allah Subhanau Wa Ta’ala.
Jangan salah lagi dan lagi-lagi salah, baru saja menyatu dengan alam sudah merasa Manunggaling Kawulo Gusti, itu gemblung namanya....
Manunggaling jagad itu adalah macak kenceng, necis, ganteng. Berpenampilan sopan, selalu tampil fit, gagah, tampan dan disukai banyak orang. Aroma tubuhnya selalu wangi, karena siap-siap segera bertemu dengan kekasihnya yaitu Allah swt. Jadi... baru saja tampil keren untuk bercengkerama dengan Tuhan itu, statusnya masih belum ketemu, itu namanya baru persiapan untuk memulai pertemuan. Paham yaaa.... jangan sampai keblinger, apalagi mengaku tuhan, hem... ketemu dhemit yang mana nih anak.
Ketahuilah... yang ada pada diri kita hanyalah “Chips” ketuhanan saja, dan bukan sempalan dari Tuhan. Gusti Allah swt itu tankeno kinoyo ngopo atau dalam bahasa keren-nya “Mukholafatu Lil Hawaditsi”, berbeda dengan makhuk-Nya.
Maka istlah Ittihad (penyatuan), Fana’illah (tenggelam dalam diri Allah), Hulul, Manunggaling Kawula Gusti, kesemuanya itu endingnya terus ngaku-ngaku sebagai Gusti Allah, itu gembolo semua itu. Na’udzu Billah min Dzalik.
Ada nukilan kata dari tokoh besar dunia, maha guru gembolo mengatakan “Ana AL-Haq = Ingsun adalah Allah” Syekh Siti Jenar tidak ada, yang ada hanyalah Allah. Itu tokoh-tokoh kuno yang terkesan primitif.
Ada juga yang dari tokoh modern seperti DR. Iqbal, seorang ahli filsafat modern yang sangat dikagumi.alah satu untaian katanya dia mengatakan “Bergairahlah dan jadilah pencipta, jadilah penakluk seperti daku” ini katanya yang bicara Gusti Allah...! dan tentunya masih banyak model-model kemusyrikan zaman now sekarang ini
Makanya... jauh-jauh hari kanjeng Nabi Muhammad ﷺ bersabda “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” yang artinya, “Barang siapa mengenal dirinya sendiri niscaya ia mengenal Tuhannya”.
Jika kita tahu akan jati diri kita, tentu kita kan tahu Tuhan kita, eeee.. alahhh ternyata Allah itu bukan kita, dan kita bukan lah Allah, jangan salah tafsir brow.
Lihat potongan Wihdatul Alam III (WA-3)
الله الله الله ربنا الله ربنا الكافى لا إله إلا الله, لا إله إلا هو الأول والآخر , والظاهر والباطن لاإله إلا هو , كل من عليها فآن. ويبقى وجهه ربك ذواالجلال والإكرام. كل نفس ذائقة الـموت, كل شيئ هالك إلا وجهه. عن يمينى نور, وعن يسرى نور, وعن خلفى نور, ومن فوقى نور, وأمامى نور, وفى جسدى نور وفى نفسى وروحى نور.
Allah Tuhanku..! Allah Yang Maha Mencukupi. Tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Awal dan Akhir, Yang Maha Lahir dan Bathin, Tiada Tuhan Selain Dia. Setiap manusia akan binasa, setiap jiwa akan menemui kematiannya. Dan egala sesuatu akan rusak kecuali Dia.
Kemudian dilantunkan dengan manah, bersatu dengan Alam hingga terbentuk sebuah Realitas Tunggak yang non Dualistik. Sebuah Kondisi yang bertenaga Adi Kodrati. Terus tiba-tiba “mak lep liyep cut prucut sukma ingsung metu soko rogo, dan setersunya.”

0 Response to "SULUK KARAHAYAON YASAMKAR BAGIAN 2"
Post a Comment