AJARAN SOPANA KARYA GBP. YASAMKAR VS AJARAN RONGGOWARSITO

SOPANA KARYA GBP. YASAMKAR VS AJARAN RONGGOWARSITO
Hari ini akan ada pembukaan Sopana. Maka dari itu perlu saya tuliskan disini tentang sedikit perbedaan antara Sopana Karya Gbp. Yasamkar dengan ajaran Para Walisongo. Agar dapat dipahami dan dimengerti oleh santri-santri Yasamkar tentang perbedaan ajaran Gbp. Yasamkar dengan ajaran Wali Songo yang dihimpun oleh RM.Ng. Ronggowarsito dari IS. Sultan Agung Hanyakrakusuma.

PERJALANAN NUR
Menurut RM. Ng. Ronhgowarsito dalam hal ini mengadopsi dari ajaran Walisongo yang telah dirangkum oleh Kutubuz zaman Sulthan Agung Anyokrokusumo. Untuk lebih detailnya, bisa dilacak di kitab Kejawen Wirid Hidayat Jati karya RM. Ng. Ronggowarsito
Sultan Agung Anyokrokusumo merangkum ajaran Walisongo kedalam beberapa stasiun untuk prosesi turunnya Nur. Mulai dari ubun-ubun sampai ke dada dan baru menyebar ke seluruh tubuh, yaitu :
1.     Ubun-ubun
2.     Utek / otak
3.     Mata,
4.     Telinga
5.     Hidung
6.     Mulut
7.     Dada
8.     Seluruh tubuh.

Berbeda dengan ajaran Sosro Jalmo oleh Gbp.Yasamkar. Ada 17 Makam / stasiun untuk prosesi perjalanan Nur dari Sang Kuasa kepada Manusia. Yaitu dimulai dari Wiwara 17 hingga turun sampai ke wiwara 1 kemudian berputar ke belakang lalu menaiki Wiwara 1-7 terus turun kembali melalui bagian depan tubuh dan masuk menembus AMA (Asta Musthika Alam = 8 inti kekuatan alam) terus ke atas sampai Wardhaya dan baru menyebar keseluruh tubuh physik kita smpai pada bagian-bagian terkecilnya.
Jadi, Thowafnya Haji di Baitulloh itu adalah gambaran kecil thowafnya nur/ Energi Tinggi kedalam diri kita melalui Pohon Wiwara (bintang / mutiara dalam tubuh), dan pohon wiwara itu tidak lain adalah Sangkakalanya Malaikat Isrofil.
Jika dia (Isrofil) meniupnya untuk tiupan pertamanya pada Wiwara 17, maka Seluruh manusia akan mati. Karena tubuh manusia sudah kosong dari Nur dan kembali ke Wiwara 17 kemudian ruh itu menuju kepada Sang Pencipta Allah .
Secara rinci, Perjalanan Nur menurut Ilmu Sosro Jalmo adalah sebagai berikut :
1.     Wiwara 17 = Sinten Sinambating Wangi 11
2.     Wiwara 16 = Sinten Sinambating Wangi 10
3.     Wiwara 15 = Sinten Sinambating Wangi 9
4.     Wiwara 14 = Sinten Sinambating Wangi 8
5.     Wiwara 13 = Sinten Sinambating Wangi 7
6.     Wiwara 12 = Sinten Sinambating Wangi 6
7.     Wiwara 11 = Sinten Sinambating Wangi 5
8.     Wiwara 10 = Sinten Sinambating Wangi 4
9.     Wiwara 9 = Sinten Sinambating Wangi 3 (Wiwara bumi, = dalam bahasa Arab disebut dengan “Samaiddunya”, tempat dimana para Malaikat turun ke bumi pada 1/3 mlm terakhirnya di bumi)
10.   Wiwara 8 = Sinten Sinambating Wangi 2
11.   Wiwara 7 = Sinten Sinambating Wangi 1
12.   Wiwara 6 = Wenanging Jumenengan
13.   Wiwara 5 = Swargaloka
14.   Wiwara 4 Wardhaya
15.   Wiwara 3 Kawignyan
16.   Wiwara 2 Rasa
17.   Wiwara 1 Manggala
Jadi Nur itu mengamarawayan dari Bintang ke Bintang yang bersifat ghaib sampai ke Bintang-bintang individual yang juga masih ghaib dan baru menyebar ke tubuh fisik kita setelah dipancarkan oleh Wiwara terbesar dari diri kita, yakni Wiwara Wardhaya. 


Sebenarnya, yang anda gunakan saat ini, adalah Dzikir Nafas Sosro Jalmo dan bukan dzikir nafas Talipusar dan bukan pula Talisukma. Dzikir nafas Talipusar adalah milik Sopana 1 cuma satu kata dzikirnya yaitu: lafal “Allohu” dan bukan Hu ( dhomir huwa) dan Allah. Tapi dzikir menyebut Satu Nama Allah yakni "Allohu" dengan tarikan nafas tertentu. Dzikir Talisuksma adlh bacaan "Tahlil" Dua dzikir ini adalah Miliknya Sopana dan WA (Wihdatul Alam)

Sedangkan Dzikir Nafas Sosro Jalmo adalah seperti berikut :
1. Dzikir Nafas Mongso Sakethi (yang saat ini sedang anda jalankan)
2. Dzikir Nafas Auman Harimau
3. Dzikir Nafas Soca Sejati
4. Dzikir Nafas Sukma Kencana/ Dzikir Nafas Beksa Rerangin\


Nama-nama diatas  hanya sebagai tanda saja untuk memudahkan dalam penyebutan sebuah materi. Sehingga pada saat seseorg melakukan Dzikir nafas Auman Harimau, berarti dia sedang mendayakan Swargaloka dan berarti dia sedang mencipta instan dan jika terjadi masalah disitu bisa langsung ketahuan akar permasalahannya.


Semua ini adalah upaya untuk persiapan Manah di bulan Swargaloka nantinya dengan mengedepankan dzikir Nafas Auman Harimau. Saat ini ibarat sekolah, kita sudah kelas 2 dan sedang bersiap-siap untuk Praktek Lapangan. Praktek apa? “Praktik Cipta Instan”  yang dimulai dari cipta-cipta kecil terlebih dahulu.

JUMENENGAN TEMEN
Bantala, 24 Wardaya 1 Y
Selasa Pahing, 18 Dzulqo'dah 1439 H / 31 Juli 2018 M.

Yaa Mu'izzu (Yang Maha Memuliakan makhluk-Nya)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AJARAN SOPANA KARYA GBP. YASAMKAR VS AJARAN RONGGOWARSITO"